Team Blue Forest sedang menjelaskan tentang area rehabilitsi mangrove di Kuri Caddi, Maros. Foto: Abdul Hayat

Terlihat embun masih menggantung di pucuk-pucuk mangrove ketika matahari perlahan bangkit di ufuk timur. Hembusan angin sepoi-sepoi yang mengelus tubuh para nelayan yang sedari subuh turun ke laut untuk mencari penghidupan. Di hamparan hutan mangrove, terlihat puluhan burung berlarian, ada pula terbang dari satu dahan ke dahan yang lain. Paruh mereka menusuk lumpur, mencari cacing dan krustasea kecil yang menjadi bekal untuk perjalanan panjang yang belum usai.

Sedikit yang menyadari bahwa tamu-tamu yang datang itu baru saja menempuh perjalanan ribuan kilometer. Beberapa di antaranya berasal dari Siberia, Mongolia, Tiongkok, Jepang, hingga Alaska. Saat musim dingin mulai membekukan wilayah utara, sumber makanan semakin sulit ditemukan. Naluri yang telah diwariskan selama ribuan tahun mendorong mereka terbang menuju daerah tropis yang lebih hangat, termasuk Indonesia.

Perjalanan yang mereka lalui itu bukan sekadar perpindahan tempat, ia adalah pertaruhan hidup. Sebuah hasil evolusi jutaan tahun yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Burung-burung yang datang dapat terbang berhari-hari, melintasi pegunungan, lautan, badai, dan perubahan cuaca yang tidak menentu. Dalam perjalanan, mereka membutuhkan lokasi persinggahan untuk beristirahat dan memulihkan cadangan energi sebelum kembali melanjutkan migrasi.

Pesisir Indonesia menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan burung migran. Tanah lumpur yang terus berhadapan dengan pasang surut, hutan mangrove, dan rawa menyediakan makanan yang melimpah bagi burung-burung migran. Tanpa kawasan-kawasan itu, perjalanan ribuan kilometer yang mereka tempuh mungkin akan berakhir sebelum mencapai tujuan.

Kondisi mangrove rehabilitasi di Dusun Kuri Caddi. Foto: Abdul Hayat

Mangrove itu Rumah

“Biasanya di bulan Oktober, kalau kami sudah lihat gerombolan burung datang, berarti tandanya angin sudah mulai kencang, jadi alat tangkap ikan juga akan diganti,” kata Rudi (31) seorang nelayan di Dusun Kuri Caddi.

Bagi nelayan yang setiap pagi melintasi pesisir, kehadiran burung-burung itu adalah penanda bahwa musim akan berganti. Ketika musim telah berganti, masyarakat kuri caddi yang sebelumnya menggunakan jaring yang kebih kecil, mengganti jaring mereka menjadi lebih besar, yang panjangnya bisa mencapai lebih dari 10 meter. Jaring diganti karena pada musim tersebut, sumber daya sedang berlimpah, khususnya udang. Bagi nelayan, jaring itu tidak hanya untuk mengkap ikan, tapi sebagai penyambung hidup bagi diri dan keluarga yang menunggu di rumah.

Kawanan burung yang sedang bermigrasi membentuk kelompok. Foto: Abdul Hayat

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Untia menggunakan kapal menuju Dusun Kuri caddi. Disepanjang jalan, terlihat barisan mangrove yang ada di pesisir, disertai hamparan laut yang luas. Beberapa nelayan sedang menarik jala yang telah mereka tebar, berharap ada beberapa ikan yang terjebak, menjadi pundi-pundi uang dan penghidupan bagi keluarga yang menunggu di rumah.

Sesampainya kami di Kuri Caddi, kami melihat jajaran mangrove yang tumbuh, yang awalnya tambak kosong yang di tinggalkan, kini menjadi ekosistem sehat yang dipenuhi oleh pagar alam. Teman-teman dari Blue Forest kemudian menjelaskan tentang kondisi Tambak di Kuri caddi yang sebelumnya tambak kosong yang gersang, kini menjadi area rehabilitasi ekosistem mangrove dengan luas sekitar 12 Ha.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kasiono Kurniawan (2019), tercatat ada 12 spesies burung yang ditemukan di hutan mangrove Desa Nisombalia, Maros. Jumlah ini tentunya bukanlah jumlah pasti, dan ada kemungkinan akan terjadi penambahan, mengingat area tersebut merupakan tempat persinggahan burung yang bermigrasi.

Kuntul kecil (Egretta garzetta), salah satu jenis burung yang dapat ditemukan di area mangrove. Foto: Abdul Hayat

Ancaman dan Harapan

Sayangnya, tempat persinggahan itu semakin menyusut. Alih fungsi lahan pesisir menjadi kawasan industri, dan tambak terus menggerus habitat alami. Sampah plastik mencemari pesisir, sementara aktivitas manusia yang semakin padat membuat burung-burung kehilangan ruang untuk beristirahat.

Ketika seekor burung gagal menemukan tempat singgah yang aman, ia mungkin tidak memiliki cukup tenaga untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Dalam migrasi, kehilangan satu titik persinggahan dapat berarti kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup. Selain itu, perburuan juga menjadi salah satu ancaman yang masih sangat masif.

Meski demikian, harapan masih ada. Di berbagai daerah di Indonesia, peneliti, pengamat burung, dan masyarakat lokal rutin memantau kedatangan burung migran setiap tahun. Penelitian tentang spesies burung di Desa Nisombalia dapat menjadi gebrakan besar dalam menjaga dan memelihara area mangrove.

Bagi para peneliti, setiap burung yang mendarat membawa cerita. Ia bukan hanya satu individu, melainkan bagian dari sistem ekologi yang menghubungkan berbagai negara dan benua. Seekor burung yang terlihat mencari makan di pesisir Sulawesi hari ini mungkin beberapa bulan sebelumnya berada di daerah sedingin Alaska maupun Siberia.

Migrasi burung dapat menjadi pengingat bahwa alam tidak mengenal batas administrasi. Jalur terbang mereka melintasi puluhan negara, sementara keselamatan mereka bergantung pada setiap habitat yang dilewati. Kerusakan di satu lokasi dapat memengaruhi populasi di tempat yang sangat jauh.

Ketika matahari mulai meninggi, kawanan burung itu kembali terbang. Dalam hitungan detik mereka membentuk pola yang rapi di langit sebelum menghilang menuju bentang pesisir berikutnya. Bagi sebagian orang, mereka hanyalah burung yang singgah sebentar. Namun bagi alam, mereka adalah penghubung antarbenua yang membawa kisah tentang ketahanan, navigasi yang luar biasa, dan pentingnya menjaga setiap jengkal habitat yang menjadi rumah, meski hanya untuk beberapa hari.

Blog Lainnya

Menyambut Tamu dari Utara

Kondisi mangrove rehabilitasi di Dusun Kuri Caddi. Foto: Abdul HayatTerlihat embun masih menggantung di pucuk-pucuk mangrove ketika matahari perlahan...

Artikel 9

The standard Lorem Ipsum passage, used since the 1500s"Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod...

Artikel 8

The standard Lorem Ipsum passage, used since the 1500s "Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do...